Aksi Nyata Guru: Menanamkan Moral Pancasila untuk Menghapus Budaya Bullying di Sekolah Dasar
Ulasan Ilmiah
Membangun karakter anak sejak dini, khususnya di level sekolah dasar, sebenarnya menjadi tugas yang sangat penting tapi juga menantang. Di era sekarang, belajar nilai itu bukan cuma soal menghafal teks di buku, tapi juga bagaimana caranya nilai-nilai itu bisa menjadi benteng untuk mereka dari perilaku negatif seperti bullying. Di tengah maraknya kasus perundungan yang makin kencang, Pendidikan moral pancasila hadir sebagai filter sekaligus pedoman supaya anak-anak kita tetap memiliki empati dan jati diri bangsanya. Artikel berjudul “Optimalisasi Peran Guru dalam Mengatasi Bullying melalui Pendidikan Moral Pancasila pada Siswa Sekolah Dasar” karya Ni Made Prila Trisna Rini dan tim (2025) ini membahas secara mendalam bagaimana peran guru sangat penting dalam menanamkan nilai pancasila untuk menekan angka bullying.
Penelitian ini diterbitkan oleh Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains dan Humaniora (JPPSH) (Vol. 9, No. 2, 2025). Penulisnya berasal dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Bali. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kepustakaan, tim penulis mengumpulkan data dari berbagai literatur untuk membedah masalah perundungan yang sering terjadi karena lunturnya nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Satu hal menarik yang ditemukan dalam penelitian ini adalah bahwa guru tidak bisa cuma ceramah di depan kelas. Ada peran strategis yang ditekankan: guru sebagai pendidik, pembimbing, sekaligus pelatih moral. Guru harus menjadi contoh nyata dalam menunjukkan kasih sayang dan keadilan sebelum mengajarkannya ke siswa. Selain itu, pembiasaan lewat integrasi nilai moral dalam setiap mata pelajaran ternyata jauh lebih efektif untuk mengukir karakter anak yang anti-kekerasan dibanding cuma teori semata.
Tapi namanya proses, pasti ada tantangannya. Penulis melihat kalau saat ini pengaruh lingkungan dan media sosial seringkali lebih kuat memengaruhi anak daripada apa yang diajarkan di kelas. Di sinilah peran guru sebagai pengawas dan komunikator jadi kunci. Jika guru mampu membangun hubungan yang dekat dengan siswa, maka perilaku bullying bisa dideteksi dan dicegah sejak dini. Intinya, pendidikan moral itu perjalanan panjang yang butuh kesabaran ekstra dan kekonsistenan dari guru.
Secara keseluruhan, artikel ini memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi saya sebagai mahasiswa PGSD. Tulisan ini memberikan perspektif baru bahwa menghadapi bullying bukan hanya soal memberi hukuman, tapi soal bagaimana kita menghidupkan kembali nilai pancasila sebagai fondasi perilaku siswa.
Bagi calon guru, artikel ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan karakter sangat bergantung pada konsistensi kita dalam memberikan teladan. Jika strategi ini diterapkan secara nyata, dampaknya tentu akan menciptakan iklim sekolah yang lebih aman, inklusif, dan nyaman untuk belajar. Pada akhirnya, penelitian ini menegaskan bahwa sinergi antara guru dan nilai-nilai kebangsaan adalah kunci utama untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki empati dan integritas yang tinggi.
Deskripsi Artikel Asli
Informasi Sumber Eksternal
Identitas Pengulas (Kontributor)
Informasi Tambahan
Review
Write a ReviewThere are no reviews yet.




